HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati:
"Suplay & Demand" tak Seimbang

Pariwisata Bali tengah menghadapi beberapa problem di antaranya tidak seimbangnya suplay and demand juga pariwisata Bali yang mulai tercerabut dari konteks budaya Bali. Saat ini jumlah kamar hotel di Bali sebanyak 45 ribu kamar. Sedangkan wisatawan yang berkunjung ke Bali tak sebanding dengan jumlah kamar yang ada di seluruh pelosok Bali. Dengan demikian, terjadi ketidakseimbangan antara jumlah kamar dan wisatawan yang menginap. Untuk itu, perlu disfersifikasi pasar sehingga bila ada pasar stagnan akibat kondisi keamanan di Indonesia khususnya Bali, pasar lain akan menjadi alternatif untuk pemulihan pariwisata Bali. Selama ini Bali kuat dengan pasar Australia, Amerika dan Jepang. Namun sampai detik ini, pemerintah di negaranya belum mencabut larangan bepergian ke Indonesia khususnya Bali dengan alasan keamanan yang belum stabil. Hal ini sangat berdampak pada rendahnya hunian hotel karena wisatawan tidak ada.
Kondisi ini diperparah dengan pengembangan pariwisata Bali yang perlahan-lahan mulai tercerabut dari konteks budaya Bali. Dengan demikian, ketidakmerataan dalam pembangunan pariwisata akan melahirkan dampak terhadap kesejahteraan sosial masyarakat dan pelaku budaya Bali.
Demikian dikemukakan Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, usai memimpin memimpin rombongan penari Bali dalam rangka Fam Trip sembilan hari ke Vietnam baru-baru ini. Lebih lanjut pria yang akrab disapa Cok Ace ini, menjelaskan agar terhindar dari problem ini pemerintah dan stakeholder segera duduk bersama mendiskusikan pariwisata Bali yang berbasis budaya, dan dilakukan secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, suami dari Tjokorda Istri Putri Hariyani menawarkan beberapa visi tentang perlunya perubahan paradigma dalam pembangunan pariwisata Bali yang berbasis budaya seperti memperkuat budaya Bali, termasuk elemen-elemen pendukung seperti adat-istiadat. Sinergi ini merupakan investasi sosial antara dua pihak yakni pariwisata dan budaya. Pariwisata berbasis budaya juga mampu menerapkan prinsip moral dan kearifan lokal yang diyakini masyarakat sebagai pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya alam.
PHRI perlu mewujudkan dirinya sebagai organisasi yang dipercaya anggota, masyarakat maupun pemerintah. Kepercayaan menurut Cok Ace, aset untuk ikut ambil bagian dalam percaturan pariwisata nasional maupun di Bali. Kepercayaan anggota adalah legitimasi dan kredibilitas organisasi. Kepercayaan masyarakat merupakan jembatan bagi PHRI untuk mempertemukan kepentingan anggota, dan pemerintah (BTN-013)

 



See Bali's Regencies :

Badung Ketut Suratni Weaving Songkets
Gianyar Gianyar, The Hub of Woven Fabrics
Bangli Weaving Industry in Bangli
Klungkung Gelgel Village as the Centre of Genuine "Songket" Fabric
Karangasem Traditional Weavers in Karangasem
Buleleng "Songket" Woven Cloth from Jineng Dalem, Singaraja
Jembrana Clothes for Ceremony
Tabanan Songket of Belayu Favoured by Foreign Tourists
Denpasar

Aryani Tedjamulya Painting on Kebaya Blouse

See Also :

 

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER