|
Rai Suryawijaya, MBA:
"Many People Like to Talk, Dont Action"
Setelah
lama tak kedengaran komentarnya di media,
IGN Rai Suryawijaya, S.E., MBA angkat bicara.
Kepada Bali Travel News, General Manager
Respati Sanur Beach Hotel dan A Nini Raka
Resort & Spa Ubud menyampaikan beberapa
hal terkait kondisi pariwisata yang hingga
kini belum menunjukkan tanda-tanda menggembirakan.
Selain sistem keamanan kita belum maksimal
sehingga wiasatawan pun enggan berkunjung
ke Bali. Juga beberapa hal yang segera ditata
terkait destinasi yang mengedepankan konsep
pariwisata yang berbasiskan budaya Bali
"Many people like to talk, Don’t
action," ujarnya.
Mantan Sekjen BTB mengemukakan, budaya dan
lingkungan sebagai penyangga pariwisata
Bali perlahan-lahan terlupakan. Lingkungan
alam hancur, sampah berserakan di mana-mana,
abrasi menggerus pantai-pantai di Bali,
di mana -mana terjadi pembakaran hutan,
berbagai jenis penyakit mulai menyerang
Indonesia termasuk Bali. Dan yang lebih
memprihatinkan, menurut Rai, agama dijadikan
komoditas politik oleh kelompok tertentu
dan demonstrasi yang melahirkan anarkisme
sehingga politik di Indonesia tidak stabil.
"Bali termasuk kotor. Kita harus improve.
Law enforcement harus ditegakan," tandas
Rai sambil memastikan, saat ini investor
takut masuk Indonesia termasuk Bali karena
berbagai hambatan dan kendala seperti keamanan,
berbagai jenis penyakit yang menyerang beberapa
kota juga Bali, politik di Indonesia yang
kurang stabil dan cenderung melahirkan anarkisme
dengan berbagai gerakan demonstrasi.
Ketika ditanya apakah Bali sebagai destinasi
wisata masih layak dijual di luar negeri?
Wakil Ketua PHRI Bali ini mengemukakan,
sampai detik ini Bali dengan segala potensinya
masih layak dijual di luar negeri. Namun
yang jadi pertanyaan, mampukah kita menjual
destinasi ini di tengah terpuruknya situasi
pariwisata saat ini. Untuk itu, ia mengharapkan
pemerintah, industri pariwisata dan masyarakat
harus bersinergi dalam mempromosikan Bali.
Kenyataan yang terjadi selama ini, kita
kurang serius menata pariwisata dan cenderung
jalan sendiri dalam upaya mempromosikan
Bali. Padahal kalau dikelola dengan baik
akan memberikan manfaat yang luar biasa
bagi masyarakat Bali. Apalagi parwisata
merupakan pemasok devisa nomor dua setelah
minyak dan gas bumi.
Wisatawan tak bosan berkunjung ke Bali asalkan
kita sungguh-sungguh menata obyek wisata
dan mengatasi hambatan dan kendala yang
dialami parwisata Bali akhir-akhir ini.
"Yang diperlukan saat ini, aksi nyata
dari goverment, industri and community sehingga
proses recovery Bali bisa mencapai hasil
yang maksimal yakni normalisasi dan ekspansi.
Memikirkan pembangunan pariwisata Bali yang
berkelanjutan dan mandiri adalah tanggung
jawab stakeholder pariwisata Bali tanpa
meminta belas kasihan orang lain. Sebab,
kita mampu mengelolanya," tandas Rai.
(BTN-013)
|