|
I
Putu Arya
Pelukis Muda dari Keramas, Gianyar
I
Putu Arya ( 23 ) adalah salah satu pelukis
muda Bali yang mengawali karir kepelukisannya
sebagai pelukis tradisional yang kemudian
berpindah jalur ke lukisan modern. Baginya
hal ini tidak terlampau membuatnya kesulitan,
tetapi justru menjadi rangsangan yang sangat
luar biasa untuk menghasilkan karya-karya
baru dengan kualitas yang semakin baik.
" saya merasa senang karena dapat melukis
dengan cara berbeda dan hasilnya ternyata
jauh lebih memuaskan batin saya," ujarnya
tersenyum.
Saat ini Putu Arya tercatat sebagai mahasiswa
tingkat terakhir di Jurusan Pendidikan Seni
Rupa, Universitas Pendidikan Undiksha, Singaraja.
Pada pameran tugas akhir bebrapa waktu yang
lalu ia menampilkan karya-karya lukisan
dengan tema Fenomena Alam. Disini Putu merespon
fenomena alam dengan caranya yang khas berupa
tampilan yang realisme diimbuhi dengan pesan-pesan
tentang cinta lingkungan. Lukisannya memang
nampak indah, namun justru dari sana ia
berharap orang lantas menjadi suka dan kemudian
mencintai alam dan lingkungannya.
Kesukaan Putu pada dunia seni rupa bolehdikatakan
terjadi secara kebetulan belaka. Waktu kecil
di kampungna ia biasa bermain kerumah tetangganya
yang seorang pelukis. Disana ia menyaksikan
bagaimana pelukis itu menyapukan warna-warna
pada bidang kanvas yang kemudian menjelma
mnjadi sebuah lukisan. Putu sangat terkesan
dengan hal itu, sehingga ketika di sekolah
nya di SMP ada pelajran ekstra seni lukis,
dengan antusias ia mengikutinya.
Berawal
dari sana setelah tamat SMP ia kemudian
melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah
Seni Rupa di Batubulan, Gianyar. Karena
rasa cintanya pada Bali serta rasa ingin
tahu lebih jauh lagi tentang seni lukis
tradisional Bali, ia kemudian memilih jurusan
lukis tradisi. Awalnya ia merasa agak bingung
juga, karena ternyata ia tak memiliki banyak
pengetahun tentang seni lukis tradisi. Masa-masa
awal sekolahnya merupakan masa-masa yang
sangat sulit baginya. Namun karena keinginannya
begitu besar untuk maju maka dengan penuh
semangat ia memacu dirinya untuk terus belajar.
Pada akhirnya kalau kemudian ia mahir melukis
tradisional Bali, itu semua karena berkat
usahanya yang pantang menyerah.
Ketika kuliah di Universitas Pendidikan
Ganesha, Singaraja, Putu Arya merasa mendapatkan
pengalaman baru. Tuntutan tugas-tugas kuliah
membuatnya kemudian melupakan seni lukis
radisional. Mulailah ia mengenal melukis
dengan teknik dan media modern. " Ini
sangat menyenangkan karena dengan demikian
ilmu saya secara tidak langsung jadi bertambah."
Ujarnya tertawa.
Sebagai pelukis muda Putu Arya juga sering
menjual lukisan-lukisannya ke berbagai galeri.
Semua itu dilakukannya karena mengikuti
ajakan teman dan juga yang terpenting buat
dirinya adalah untuk melatih mental. Menurutnya
membawa lukisan untuk dijual ke galeri minimal
mental harus sudah sekuat baja. Sebab menurut
pengalamannya, lebih banyak pemilik galeri
yang menolak dari pada menerima. "
Itu pun disertai kritikan yang membuat wajah
seketika menjadi memerah saga." Kata
Putu sembari tersenyum kecut. (Gung Man)
|