|
Penilaian Sementara
Program Adipura
Bangli Raih Nilai Tertinggi, Denpasar Terendah
PUSAT Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional
(Pusreg LH) Bali-Nusra, belum lama ini memaparkan
hasil penilaian sementara Program Adipura
tahun 2006 – 2007. Pemaparan rekapitulasi
nilai pemantauan disampaikan Kepala Pusreg
LH Bali-Nusra Ir. Raden Sudirman, M.M. di
hadapan Kadis Lingkungan Hidup atau instansi
sejenis kabupaten atau kota se-Bali. Hadir
pula Dewan Evaluasi Kota (DEK) Propinsi
Bali.
Terungkap, dari sembilan kota di Bali, Kota
Denpasar meraih nilai terendah 66,00 dan
Kabupaten Bangli menduduki posisi tertinggi
dengan mendulang poin 77,03. Menariknya,
Denpasar satu-satunya kota dengan rentang
level nilai 60, sementara kota lain di atas
70. Padahal tahun 2005 – 2006 Denpasar
sempat menyabet Trophy Adipura dan mendapat
predikat best location.
Menurut Sudirman, penilaian ini hasil pemantauan
pertama dan masih bersifat sementara. Sampai
diumumkan Juni 2007, Pemkab dan kota se-Bali
masih cukup waktu untuk memperbaiki kulitas
semua komponen yang dinilai. "Penilaian
ini belum final. Untuk itu, masing-masing
kabupaten dan kota diharapkan lebih bersemangat
membenahi kualitas lingkungan yang dinilai,"
ujarnya di kantor Pusreg LH Renon.
Ketika ditanya mengapa Denpasar meraih nilai
terendah, Sudirman menjelaskan, selain terjadi
penurunan kualitas yang dinilai juga Denpasar
masuk kategori kota besar sementara kabupaten
lain di Bali masuk kategori kota kecil.
Lokasi yang Dinilai
Adapun lokasi yang dinilai di masing-masing
kabupaten dan kota yakni perumahan, sarana
kota, perairan terbuka dan sarana kebersihan.
Sarana kota yang dipantau adalah jalan,
pasar, pertokoan,perkantoran, sekolah, terminal
bus dan angkot, pelabuhan, terminal penumpang,
rumah sakit, hutan kota, taman kota. Perairan
terbuka yang dipantau adalah presentase
area hijau atau resapan, badan air dan bantaran
sungai. Sarana kebersihan yang dipantau
yaitu TPA, pemanfaatan sampah dan alat angkut.
Komponen dan sub-komponen yakni prasarana
dasar dan sarana penunjang, sarana pencegahan
dan pengendalian pencemaran, kondisi lingkungan,
pengomposan, truk sampah dan kondisi sampah
selama pengangkutan serta pencemaran lingkungan.
Kapusreg menjelaskan, bobot pemantauan fisik
dibagi menjadi dua bagian. Pertama, pemantauan
secara menyeluruh ke semua lokasi dengan
melihat secara detail semua komponen maupun
sub-komponen yang ada pada kriteria dengan
bobot 70 persen. Kedua, pemantauan cepat
yakni hanya melihat komponen kebersihan
dan keteduhan dengan bobot 30 persen. "Pemantauan
melibatkan tim dari Pusreg dan Dewan Evaluasi
Kota Propinsi Bali yang terdiri dari perguruan
tinggi dan media massa plus LSM. Jadi, betul-betul
profesional dan objektif," tandas Sudirman.
Di tempat terpisah, Ketua Dewan Evaluasi
Kota Propinsi Bali Dr. Ir. Made Suarna mengatakan,
program ini namanya Bangun Praja. Trophynya
Adipura diberikan kepada kabupaten dan kota
di Indonesia yang dinilai berhasil meningkatkan
kualitas lingkungan bersih dan hijau (clean
& green). "Program ini berbeda
dengan Kalpataru di mana Jakarta yang menentukan.
Sedangkan Bangun Praja, daerah bersama swasta
yang menilai. Jadi, benar-benar objektif,"
ungkap Suarna
Terkait Kota Denpasar yang memperoleh nilai
terendah pada penilaian sementara, Suarna
menjelaskan, nilai itu masih bersifat sementara.
Lagi pula Denpasar masuk dalam kategori
penilaian kota besar yang sejajar dengan
Balikpapan, Padang, Surakarta dan Samarinda.
Denpasar masih punya waktu 6 bulan untuk
membenahi dan menata komponen dan sub-komponen
yang nilainya turun pada pemantauan pertama.
"Kalau segera dibenahi, Denpasar kembali
mengukir prestasi Adipura 2006 – 2007
dan pemimpinnya mendapat penghargaan serupa
dari Presiden," ujar Suarna. (BTN-poll)
|