HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

Tradisi Mohon Hujan di Karangasem

Berbagai tradisi masih berlaku konsisten oleh masyarakat Hindu di Karangasem yang daerahnya terkenal tandus. Salah satu tradisi itu adalah persembahyangan bersama untuk memohon hujan. Tradisi ini selalu dilaksanakan saat mengakhiri musim kemarau panjang dengan ciri-ciri banyak sungai, sumur, dan sumber mata air mengering. .

Kondisi itu menyebabkan para petani sulit bercocok tanam. Sawah mereka kering. Dalam kondisi ini juga selalu banyak bencana alam, misalnya, angin kencang yang merusak tanaman pertanian, merobohkan rumah penduduk dan pura. Hal inilah yang mendorong warga desa di Karangasem melaksanakan tradisi persembahyangan bersama untuk memohon hujan kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Di samping tradisi persembahyangan di berbagai tempat suci (tempat yang dikeramatkan seperti pura), ada juga kelompok masyarakat yang menggelar tarian Gebug Ende (dua penari lelaki bertarung masing-masing memegang senjata cemeti dan tameng). Menurut penuturan Gede Putu Suarsa, Bendesa Adat Seraya, tarian itu di masa lalu lalu digelar dalam rangka ngusaba (salah satu jenis aktivitas ritual) yang dilaksanakan di Pura Desa Seraya. “Usai tarian Gebug Ende, biasanya hujan turun,” tuturnya.
Itu tradisi warga Seraya. Sedangkan warga Desa Ban, Kecamatan Kubu – yang terkenal paling tandus di Bali — upacara mohon hujan dengan persembahyangan bersama biasa di laksanakan di kaki utara Gunung Agung. Sejauhmana tradisi ini membawa hikmah? Warga Desa Ban sangat meyakini hal itu, dan kini hujan kerapkali turun di desa itu sehingga petani pun bisa lega bercocok tanam palawija dan jagung sekali dalam setahun, yakni awal musim hujan.
Sementara krama Desa Sibetan, yang terkenal dengan hasil salaknya, beberapa waktu lalu menggelar upacara ngenteg linggih di Pura Bangkak, yang juga berlokasi di kaki gunung Agung. Ini juga ditujukan untuk memohon hujan dan mata air yang ada agar terus mengalir. “Syukur, tiap kali upacara di pura ini, selalu turun hujan, bahkan hujan terlebat umumnya saat puncak upacara yang biasanya dihadiri para pejabat Karangasem.
Di selatan pura Bangkak itu, ada sebuah mata air yang telah sejak zaman kerajaan Karangasem di sana di bangun kolam bernama Telaga Tista. Saat musim liburan sekolah atau liburan hari raya keagamaan, banyak warga berekreasi Telaga Tista.
Masih seputar upacara, warga Desa Pakraman Datah, Kecamatan Abang, menggelar upacara melaslas (peresmian) pura dan runtutan ritual lainnya yang disebut ngenteg linggih, nubung daging dan ngusaba ageng di Pura Ratu Gede Bingin. Di pura ini terdapat beberapa patung Ganesha kuno yang melambangkan kebijaksanaan. Di pura ini, ratusan umat sembahyang silih berganti selama hampir satu minggu untuk mohon keselamatan, perlindungan, kesuburan lahan pertanian dan terhindar dari hama dan penyakit. Klian Desa Pakraman Datah Made Kusuma Jaya memperkirakan sudah 25 tahun tidak digelar upacara di pura itu. Kini pura yang sudah banyak rusak dimakan rayap itu sedang dipugar. (Budana)



See :

In Bahasa Indonesia

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001