|
Tradisi
Mohon Hujan di Karangasem
Berbagai tradisi masih berlaku konsisten
oleh masyarakat Hindu di Karangasem yang
daerahnya terkenal tandus. Salah satu tradisi
itu adalah persembahyangan bersama untuk
memohon hujan. Tradisi ini selalu dilaksanakan
saat mengakhiri musim kemarau panjang dengan
ciri-ciri banyak sungai, sumur, dan sumber
mata air mengering. .
Kondisi
itu menyebabkan para petani sulit bercocok
tanam. Sawah mereka kering. Dalam kondisi
ini juga selalu banyak bencana alam, misalnya,
angin kencang yang merusak tanaman pertanian,
merobohkan rumah penduduk dan pura. Hal
inilah yang mendorong warga desa di Karangasem
melaksanakan tradisi persembahyangan bersama
untuk memohon hujan kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Di samping tradisi persembahyangan di berbagai
tempat suci (tempat yang dikeramatkan seperti
pura), ada juga kelompok masyarakat yang
menggelar tarian Gebug Ende (dua penari
lelaki bertarung masing-masing memegang
senjata cemeti dan tameng). Menurut penuturan
Gede Putu Suarsa, Bendesa Adat Seraya, tarian
itu di masa lalu lalu digelar dalam rangka
ngusaba (salah satu jenis aktivitas ritual)
yang dilaksanakan di Pura Desa Seraya. “Usai
tarian Gebug Ende, biasanya hujan turun,”
tuturnya.
Itu tradisi warga Seraya. Sedangkan warga
Desa Ban, Kecamatan Kubu – yang terkenal
paling tandus di Bali — upacara mohon
hujan dengan persembahyangan bersama biasa
di laksanakan di kaki utara Gunung Agung.
Sejauhmana tradisi ini membawa hikmah? Warga
Desa Ban sangat meyakini hal itu, dan kini
hujan kerapkali turun di desa itu sehingga
petani pun bisa lega bercocok tanam palawija
dan jagung sekali dalam setahun, yakni awal
musim hujan.
Sementara krama Desa Sibetan, yang terkenal
dengan hasil salaknya, beberapa waktu lalu
menggelar upacara ngenteg linggih di Pura
Bangkak, yang juga berlokasi di kaki gunung
Agung. Ini juga ditujukan untuk memohon
hujan dan mata air yang ada agar terus mengalir.
“Syukur, tiap kali upacara di pura
ini, selalu turun hujan, bahkan hujan terlebat
umumnya saat puncak upacara yang biasanya
dihadiri para pejabat Karangasem.
Di selatan pura Bangkak itu, ada sebuah
mata air yang telah sejak zaman kerajaan
Karangasem di sana di bangun kolam bernama
Telaga Tista. Saat musim liburan sekolah
atau liburan hari raya keagamaan, banyak
warga berekreasi Telaga Tista.
Masih seputar upacara, warga Desa Pakraman
Datah, Kecamatan Abang, menggelar upacara
melaslas (peresmian) pura dan runtutan ritual
lainnya yang disebut ngenteg linggih, nubung
daging dan ngusaba ageng di Pura Ratu Gede
Bingin. Di pura ini terdapat beberapa patung
Ganesha kuno yang melambangkan kebijaksanaan.
Di pura ini, ratusan umat sembahyang silih
berganti selama hampir satu minggu untuk
mohon keselamatan, perlindungan, kesuburan
lahan pertanian dan terhindar dari hama
dan penyakit. Klian Desa Pakraman Datah
Made Kusuma Jaya memperkirakan sudah 25
tahun tidak digelar upacara di pura itu.
Kini pura yang sudah banyak rusak dimakan
rayap itu sedang dipugar. (Budana)
 |
|