HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

Pariwisata Masa Depan di Jembrana

Dalam peta dan dinamika kepariwisataan Bali, Kabupaten Jembrana tampak samar-samar. Hal ini bisa dimaklumi karena kabupaten yang berposisi di Bali Barat itu relatif jarang dijamah oleh turis manca-benua. Para pengelola biro perjalanan pun, kelihatannya, masih menomor-duakan paket tour-nya ke Bali Barat. Di samping itu, tiap wisatawan asing ataupun domestik yang berkunjung ke Bali melalui Bandar Udara Nguarh Rai dengan masa tinggal pendek seringkali tak punya cukup waktu berkunjung ke Bali Barat, 100 km arah ke barat dari Denpasar.

Ragam kendala eksternal tersebut jelas menyebabkan perkembangan pariwisata Jembrana ditinggal oleh kabupaten lainnya di Bali, terutama Badung, Denpasar, dan Gianyar. Di samping kendala eksternal, infrastruktur penunjang kepariwisataan juga masih relatif minim, penataan objek dan daya tarik wisata ODTW) masih berjalan lamban, serta pertumbuhan usaha akomodasi yang cocok untuk orang asing sangat terbatas.
Di balik multi-kendala eksternal dan kegamangan internal itu, kelestarian alam dan keunikan budaya di bumi makepung ini selalu konsisten dijaga sehingga dijamin lebih unggul daripada kabupaten lainnya di Bali. Drs. I Gede Ardika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada era Pemerintahan Megawati Soekarnoputri meyakini betul hal itu. Keyakinan ini dilontarkannya ketika meninjau pembangunan akomodasi di Palasari belum lama ini. Ia mengakui kelebihan Bali Barat di masa depan adalah keunikan budaya dan kelestarian alamnya. “Jadi, alam Jembrana adalah Pariwisata masa depan,” ujar Ardika. Kondisi ideal yang diharapkan di masa depan itu harus dipahami betul oleh seluruh komponen Bali, baik yang bergerak di tararan private sector (pelaku bisnis pariwisata) maupun public sector (pemegang otoritas/pemerintah) dan community (masyarakat di sub-struktur).
Selama ini, alam Jembrana tak asing lagi bagi wisatawan nusantara yang datang dari kota–kota besar seperti Sumatra, Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya yang berkunjung ke Bali lewat darat (over land). Para wisatawan nusantara over-land ini, sudah barang tentu melalui pintu gerbang pelabuhan Gilimanuk. “Dalam ’paceklik’ pariwisata saat ini, Bali seyogyanya tidak menomor-duakan ’wisatawan bangsa awak’ ini. Mereka memiliki masa tinggal lebih dari seminggu dalam tiga setahun, yaitu Tahun Baru, lebaran, dan liburan anak–anak sekolah.
Kedatangan ’wisatawan bangsa awak’ ke Bali lewat Gilimanuk harus diberikan pelayanan sejajar dengan wisatawan asing. “Saya setuju bahwa kita tidak boleh membedakan wisatawan karena sudah terbukti memberikan pendapatan daerah di saat ’paceklik’ turis akibat tragedi bom 2002 dan 2005 yang menyebabkan pariwisata terpuruk,” ujar Menbudpar Jero Wacik pada acara puncak penganugrahan THK Tourism Awards di Tanah Lot, Tabanan, 22 Desember 2006 yang dihadiri juga oleh Menteri Lingkungan Hidup Ir. Rachmat Witoelar dan Duta Besar Indonesia di PBB Urusan Millenium Goal Kawasan Asia Fasifik Erna Witoelar, Gubernur Bali Dewa Beratha, para bupati dan undangan lainnya.
Menbudpar Jro Wacik yang kelahiran Bali itu menekankan pentingnya keamanan dan kenyamanan wisatawan serta kebersihan lingkungan agar Bali tetap menarik. “Dalam tahun 2007 ini, di Bali akan banyak diselenggarakan perhelatan internasional seperti pertemuan lingkungan dan PATA Mart 2007. Oleh karena itu, Gilimanuk sebagai pintu gerbang Bali dan ODTW khusus, yang merupakan etalase bagi Bali harus dibangun dan dimanfaatkan oleh otoritas dan komponen pariwisata Bali bekerja sama dengan Pemkab setempat,” kata Wacik berharap.
Sebagai etalase, TIC yang dibangun 1991 oleh Diparda Bali – dan sejak puluhan tahun terbengkelai – kini dibangun lagi di pelabuhan Gilimanuk atau dengan menyewa counter ASDP. Menurut hasil pengamatan Bali Travel News di lapangan, khusus terkait dengan keamanan dan kenyamanan di Gilimanuk, telah dipasang CCTV dan kesiapan aparat keamanan, termasuk polisi pariwisata yang mengendarai sepeda pancal.
Sejak otoritas kepariwisataan, Diparda yang didirikan 1990 dengan dua tugas utama, yaitu menata ODTW dan promosi pariwisata, kini bersama masyarakat membangun potensi alam dan kesenian khas Bali Barat, utamanya Jegog dan mekepung sebagai trade mark.
Jembrana saat ini memiliki 15 ODTW (Bendungan Palasari, Bunut Bolong, Pantai Penyerajoan, Pantai Gumbrih, Pantai Pekutatan, Pantai Berselancar Medewi, Rambut Siwi, Pantai Delod Berawah, Pantai Perancak, Pantai Rening, Pantai Candikusuma, Teluk Gilimanuk, Museum Manusia Purba, Ress Area, dan Desa Wisata Sankaragung). Taman Nasional Bali Barat dan Agrowisata Perkebunan Pulukan yang berada di wilayah Kabupaten Jembrana juga merupakan ODTW sangat menarik bagi wisatawan alam.
Di antara ODTW tersebut, dua di antaranya — Candikusuma dan Perancak – kini sedang ditawarkan ke mancanegara. Di samping itu, ada dua lagi ODTW Khusus Palasari dan Gilimanuk yang tak kalah menariknya bagi wisatawan nusantara.
Satu lagi yang jadi trade mark Jembrana, yaitu atraksi wisata Mekepung secara konsisten dilaksanakan 10 kali dalam setahun. Sedangkan kesenian Jegog digelar untuk tontonan wisata setiap Kamis sore di Kelurahan Sangkarangung yang sangat disukai turis Jepang. Fasilitas hotel melati, pondok wisata dan butik dengan fasilitas restoran, kolam renang dan spa tersedia di berbagai objek dan kawasan wisata.
Di tengah-tengah gemuruhnya wacana seputar villa liar/gelap (tanpa izin) yang semakin menjamur di Bali, ternyata di Kabupaten Jembrana belum ada catatan pasti. Hasil pantauan Bali Travel News (BTN) di lapangan menunjukkan, kini terdapat tiga villa di Perancak dan lima villa di Penyerajoan yang sudah mengantongi izin sebagai pondok. wisata dan rumah tinggal (yang disewakan).
Keamanan dan kebersihan lingkungan kini menjadi kendala utama di Jembrana. Pantai sepanjang 85 km kini banyak yang abrasi, terutama senderan di pantai Medui yang popular sebagai tempat surfing dan lomba surfing. Objek wisata, yang banyak menyimpan sampah plastik perlu edukasi lingkungan bagi penduduk lokal. Pemilik Puri Dajuma Cottages di Pantai Pekutatan, Prof. Dr. Lovis Balune dari Perancis mengatakan hal ini ketika ngobrol dengan BTN baru-baru ini.
(BTN/Lanus)





See :

In Bahasa Indonesia

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001