HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 


Pelukis Ketut Karta
Sering Mendapat Inspirasi melalui Mimpi

Ketika banyak orang tak mampu melukiskan mimpinya, seorang bernama Ketut Karta justru biasa melukiskan apa yang dia lihat pada saat bermimpi. Memang terkesan aneh, namun ini nyata adanya. Sebab lukisan yang bersumber dari mimpi-mimpinya itu sampai sekarang masih tersimpan di studionya di bilangan Ubud.
Ketut Karta lahir 21 Maret 1964 di Desa Panestanan, Ubud – Gianyar, sebuah desa kecil di atas tanah ketinggian sekitar 2 Km dari kota kecamatan Ubud. Di desa ini dulunya pelukis kelahiran Belanda yang sekarang menjadi warga Negara Indonesia, memulai proyeknya memperkenalkan teknik melukis modern pada anak-anak di Panestanan. Pada akhirnya memang proyek itu berjalan dengan baik, dimana di desa Panestanan tersebut lahirkan kemudian apa yang sekarang dikenal sebagai lukisan Young Artist.
Lukisan yang dibuat oleh anak-anak itu bergaya naïf, dengan garis kontur tegas, serta pewarnaan yang kontras. Dan Ketut Karta, anak ke-4 dari 7 bersaudara dari pasangan I Nyoman Gelis ( ayah ) dan Ni Wayan Reteg ( ibu ) berada dalam kelompok itu. Bakatnya dalam bidang seni memang sudah terlihat sejak dia masih kecil. Ketika anak-anak seusianya sudah terlelap tidur Ketut Karta justru sedang asik menari pada pertunjukan tari barong. “ Sejak kecil saya sudah belajar menari dan kemudian mengikuti sekaa tari barong di desa saya.” Ujarnya saat berbincang dengan BTN di rumahnya.
Ketika ia sudah mulai menginjak usia remaja, ia pun tertarik dengan kesenian wayang kulit. Maka setiap kali ada pertunjukan wayang kulit ia selalu menyempatkan diri untuk menonton, sehingga lama kelamaan ia pun menjadi hapal dengan bentuk-bentuk wayang dan ceritanya. Pada masa itu ia sempat membuat wayang kulit sebanyak 25 buah
dan malam hari sering dimainkannya sendiri dengan ditonton oleh anak-anak di desanya.
Saat Ketut Karta berusia 10 tahun, ia sering mengikuti ayahnya ke rumah pelukis Arie Smit. Sambil membantu ayahnya memasak untuk Arie Smit, Ketut Karta dengan sembunyi-sembunyi mengintip Arie Smit melukis. Pada waktu itu ia menyaksikan bagaimana tangan-tangan Arie Smit seolah-olah menari di atas bidang kanvas. Menyapukan cat warna-warni ke segenap arah seolah-olah ia menebarkan cahaya matahari yang tiba-tiba terasa sangat mempesona. Ketut Karta pernah meminta pada ayahnya untuk dibelikan kanvas, namun ayahnya tak memperdulikan permintaannya itu.
Alangkah senangnya hati Ketut Karta ketika suatu hari Arie Smit memberinya kanvas dan menyuruhnya melukis apa saja disana. Waktu itu Ketut Karta melukis landscape dan Arie Smit nampaknya tertarik dengan bakat alam yang dimilikinya. Selanjutnya ia mendapat bimbingan yang lebih serius dari Arie Smit terutama dalam hal pewarnaan modern.
Karena ingin lebih jauh mengetahui seluk beluk dunia seni lukis, Ketut Karta kemudian melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Seni Rupa. Setamat dari sana ia memutuskan untuk total menjadi pelukis. Dan dalam perjalanannya meniti karir tersebut ia bertemu dengan wanita dari Jerman bernama Ana Marie yang kemudian membantunya mempublikasikan karya-karyanya. Sejak saat itulah Ketut Karta mulai berpameran. Awalnya ia berpameran di Museum Neka di bilangan Ubud, selanjutnya ia berpameran dibanyak tempat diantaranya di Museum Rudana, di candi Borobudur, Yogyakarta, dll.
Sebagai pelukis, Ketut Karta sangat sabar dan teliti menyelesaikan karya-karyanya yang terkesan super realis. Sapuan kuasnya sangat lembut dan kontur garisnya terkesan sangat lentur sehingga menjadikan karyanya terlihat sangat alami. Menurut penuturannya, dalam beberapa kesempatan ia menjadikan mimpi-mimpinya sebagai sumber inspirasinya. Mimpi yang paling berkesan baginya adalah saat ia bertemu dengan dewi Sri yaitu Dewi Kesuburan. Pertemuannya itu kemudian ia visualkan dalam bidang kanvasnya dan terwujudlah sosok wanita cantik nan anggun dengan busana jaman kerajaan. “ Lukisan ini adalah lukisan kesayangan saya. Rasanya berat untuk dijual.” Ungkapnya sambil menatap lukisan tersebut yang tergantung di dinding studionya di banjar Pacekan, Blangsuh, Panestanan Kaja, Ubud. (Gung Man)

 



See :

In Bahasa Indonesia

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001