HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

Sensus Pelancong Di Bumi Jegog

Pengembangan sebuah kawasan wisata harus memperhatikan banyak faktor, di antaranya tujuan utama kunjungan dan jenis wisatawan yang datang, aksesibilitas, fasilitas, atraksi wisata. Jika faktor ini ditunjang lagi oleh promosi dan keterlibatan organisasi turisme, misalanya agen perjalanan, niscaya destinasi itu dapat berkembang pesat. Tujuan orang bepergian (berwisata) memang beragam. Yang paling menonjol adalah bersenang-senang (pleasure) dan niaga (business) termasuk shoping, di samping tujuan pendidikan, penelitian, berobat, dan sebagainya.

Negara, Ibukota Kabupaten Jembrana di Bali Barat sebagai bagian dari destinasi Bali sudah saatnya melakukan pendataan (sensus) terhadap hal-hal tersebut. Pengumpulan data statistik yang akurat jelas sulit karena otoritas pariwisata yang punya tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) untuk mencatatnya baru berdiri 1990. Pertanyaan yang paling mendasar adalah sejak kapan sebenarnya para pelancong mengenal wilayah Jembrana ini? Data empiris di lapangan menunjukanm, sentuhan orang bule di Bali Barat sudah mulai sejak zaman kolonial Belanda. Puri Negara sebagai pusat pemerintahan telah menyediakan penginapan/sarana akomodasi sejak zaman kerajaan. Misalnya, Kampung Loloan sebagai pusat perdagangan dan Teluk Bunter sebagai pusat pelabuhan ekspor-impor berupa perahu sebagai sarana transportasi di perairan sungai dan laut dan bis untuk transportasi darat. Hotel Safakira, satu-satunya akomodasi saat itu merupakan cikal bakal kepariwisataan Bali Barat.
Pasca kemerdekaan, beberapa losmen berkembang di kota Negara. Zaman terus bergulir dan penyeberangan Ketapang – Gilimanuk dengan sekoci mulai dibuka dan mobilitas manusia ke Jembrana meningkat. Pada dekade 1970, otoritas pariwisata Bali telah berdiri dan sudah mulai ada gerakan mempersiapkan pariwisata massal yang akan membanjiri seluruh pelosok pulau Bali. Pura Rambut Siwi dan Pura Perancak dijadikan objek wisata, dilengkapi dengan petugas pencatat kunjungan wisatawan. Bungalo-bungalo didirikan di Semenanjung Perancak dan Pantai Candikusuma (sekarang tinggal puing – puingnya saja). Tahun 1971, menteri PUTL mendirikan prototype akomodasi motel (mobile & hotel) di teluk Gilimanuk. Pengusaha akomodasi ikut-ikutan mendirikan penginapan di Gilimanuk dan kota Negara.
Dalam dekade 1980-an di Bali muncul gerakan revitalisasi kesenian melalui Pesta Kesenian Bali dan Jembrana kebagian merevisalisasi kesenian khasnya, terutama makepung sebagai trade mark. Meskipun lomba makepung sudah diorganisir sejak 1970-an malalui Makepung Bupati Cup setiap Agustus dan Gubernur Cup setiap Oktober yang dikaitkan dengan Pesta Kesenian Bali atas prakarsa Prof. Ida Bagus Mantra, mampu menciptakan image dan branding bagi Kabupaten Jembrana. Maka mulailah wisatawan berkunjung ke Jembrana untuk menikmati kesenian khas itu. Perkembangan itu dibarengi dengan pembangunan hotel dan restoran yang memadai. Di Pulukan, berdiri rumah makan yang menjamu turis-turis Belanda yang dipandu oleh travel agent I de bour & wendel.
Popularitas makepung memang luar biasa. Taman Wisata Perancak bekerja sama dengan Peanut Club Kuta mengajak wisatawan Australia menikmati makepung sebagai tontonan wisata dan setiap tahun 1991 – 2000 menyelenggarakan Perancak Cup dengan melibatkan turis-turis sebagai joki.
Pada dekade 1990 – mulai muncul para peselancar ke Pantai Medewi dan disana didirikan hotel melasti dengan swimming pool untuk pertama kali di Jembrana. Wisatawan Australia dan Jepang berbaur di pantai itu. Popularitas jegog di dunia global telah mendapat pengakuan dan permintaan pasar untuk tontonan wisata. Yayasan Suar Agung di Kelurahan Sagkaragung menggelar pertunjukan wisata yang potensi pasarnya turis Jepang.
Di dekade 2000, tidak ada perubahan yang signifikan hanya berdiri akomodasi yang dilengkapi dengan Spa dan landscape yang lebih bernuansa alam. Beberapa hotel juga kebagian paket “wedding” dengan menggunakan pakaian, kesenian dan makanan khas Jembrana.
Data kunjungan wisatawan selama 3 tahun terakhir ini menunjukan bahwa wisatawan nusantara lebih besar dari wisatawan asing. Tahun 2004 : 62.358 wisman dan 6.136 wisman, tahun 2005 : 45.671 wisman dan 5.088 wisman, tahun 2006 : 23.497 wisman dan 5.356 wisman. Sayangnya data wisman itu tidak dirinci menurut negara asal mereka.
(BTN/Lanus Sumatra)



See :

In Bahasa Indonesia

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001