|
Sensus
Pelancong Di Bumi Jegog
Pengembangan sebuah kawasan wisata harus
memperhatikan banyak faktor, di antaranya
tujuan utama kunjungan dan jenis wisatawan
yang datang, aksesibilitas, fasilitas, atraksi
wisata. Jika faktor ini ditunjang lagi oleh
promosi dan keterlibatan organisasi turisme,
misalanya agen perjalanan, niscaya destinasi
itu dapat berkembang pesat. Tujuan orang
bepergian (berwisata) memang beragam. Yang
paling menonjol adalah bersenang-senang
(pleasure) dan niaga (business) termasuk
shoping, di samping tujuan pendidikan, penelitian,
berobat, dan sebagainya.
Negara,
Ibukota Kabupaten Jembrana di Bali Barat
sebagai bagian dari destinasi Bali sudah
saatnya melakukan pendataan (sensus) terhadap
hal-hal tersebut. Pengumpulan data statistik
yang akurat jelas sulit karena otoritas
pariwisata yang punya tugas pokok dan fungsi
(Tupoksi) untuk mencatatnya baru berdiri
1990. Pertanyaan yang paling mendasar adalah
sejak kapan sebenarnya para pelancong mengenal
wilayah Jembrana ini? Data empiris di lapangan
menunjukanm, sentuhan orang bule di Bali
Barat sudah mulai sejak zaman kolonial Belanda.
Puri Negara sebagai pusat pemerintahan telah
menyediakan penginapan/sarana akomodasi
sejak zaman kerajaan. Misalnya, Kampung
Loloan sebagai pusat perdagangan dan Teluk
Bunter sebagai pusat pelabuhan ekspor-impor
berupa perahu sebagai sarana transportasi
di perairan sungai dan laut dan bis untuk
transportasi darat. Hotel Safakira, satu-satunya
akomodasi saat itu merupakan cikal bakal
kepariwisataan Bali Barat.
Pasca kemerdekaan, beberapa losmen berkembang
di kota Negara. Zaman terus bergulir dan
penyeberangan Ketapang – Gilimanuk
dengan sekoci mulai dibuka dan mobilitas
manusia ke Jembrana meningkat. Pada dekade
1970, otoritas pariwisata Bali telah berdiri
dan sudah mulai ada gerakan mempersiapkan
pariwisata massal yang akan membanjiri seluruh
pelosok pulau Bali. Pura Rambut Siwi dan
Pura Perancak dijadikan objek wisata, dilengkapi
dengan petugas pencatat kunjungan wisatawan.
Bungalo-bungalo didirikan di Semenanjung
Perancak dan Pantai Candikusuma (sekarang
tinggal puing – puingnya saja). Tahun
1971, menteri PUTL mendirikan prototype
akomodasi motel (mobile & hotel) di
teluk Gilimanuk. Pengusaha akomodasi ikut-ikutan
mendirikan penginapan di Gilimanuk dan kota
Negara.
Dalam dekade 1980-an di Bali muncul gerakan
revitalisasi kesenian melalui Pesta Kesenian
Bali dan Jembrana kebagian merevisalisasi
kesenian khasnya, terutama makepung sebagai
trade mark. Meskipun lomba makepung sudah
diorganisir sejak 1970-an malalui Makepung
Bupati Cup setiap Agustus dan Gubernur Cup
setiap Oktober yang dikaitkan dengan Pesta
Kesenian Bali atas prakarsa Prof. Ida Bagus
Mantra, mampu menciptakan image dan branding
bagi Kabupaten Jembrana. Maka mulailah wisatawan
berkunjung ke Jembrana untuk menikmati kesenian
khas itu. Perkembangan itu dibarengi dengan
pembangunan hotel dan restoran yang memadai.
Di Pulukan, berdiri rumah makan yang menjamu
turis-turis Belanda yang dipandu oleh travel
agent I de bour & wendel.
Popularitas makepung memang luar biasa.
Taman Wisata Perancak bekerja sama dengan
Peanut Club Kuta mengajak wisatawan Australia
menikmati makepung sebagai tontonan wisata
dan setiap tahun 1991 – 2000 menyelenggarakan
Perancak Cup dengan melibatkan turis-turis
sebagai joki.
Pada dekade 1990 – mulai muncul para
peselancar ke Pantai Medewi dan disana didirikan
hotel melasti dengan swimming pool untuk
pertama kali di Jembrana. Wisatawan Australia
dan Jepang berbaur di pantai itu. Popularitas
jegog di dunia global telah mendapat pengakuan
dan permintaan pasar untuk tontonan wisata.
Yayasan Suar Agung di Kelurahan Sagkaragung
menggelar pertunjukan wisata yang potensi
pasarnya turis Jepang.
Di dekade 2000, tidak ada perubahan yang
signifikan hanya berdiri akomodasi yang
dilengkapi dengan Spa dan landscape yang
lebih bernuansa alam. Beberapa hotel juga
kebagian paket “wedding” dengan
menggunakan pakaian, kesenian dan makanan
khas Jembrana.
Data kunjungan wisatawan selama 3 tahun
terakhir ini menunjukan bahwa wisatawan
nusantara lebih besar dari wisatawan asing.
Tahun 2004 : 62.358 wisman dan 6.136 wisman,
tahun 2005 : 45.671 wisman dan 5.088 wisman,
tahun 2006 : 23.497 wisman dan 5.356 wisman.
Sayangnya data wisman itu tidak dirinci
menurut negara asal mereka.
(BTN/Lanus Sumatra)
 |
|