|
JBK
Berubah Bentuk di Bali, Salah Siapa?
Membanjirnya turis Thailand ke pulau dewata
awal 90-an tidak hanya membawa keuntungan
ekonomis, tetapi juga melahirkan dampak
susulan bagi pariwisata Bali yang hingga
kini masih hangat diperbicangkan. Dampak
susulan itulah yang disebut ‘jual
beli kepala alias JBK’.
Para
pelaku pariwisata,
khususnya biro per-
jalanan wisata (BPW) dan pramuwisata (guide)
me-nuturkan, pada mulanya Bali sama sekali
tak mengenal praktek JBK. “Yang terjadi,
guide mensubsidi BPW antara 10-15 dolar
per orang,” ungkap Miyadi Wihardja,
Director & Sales Marketing Plumeria
Bali Tour & Travel.
Seiring dengan perkembangan pariwisata Bali
dan membanjirnya turis Taiwan, subsidi silang
antardua stakeholder itu lenyap, dan muncul
praktek JBK ke permukaan dan terus merajalela
menghiasi album pariwisata Bali hingga detik
ini. Dan, yang jadi korban adalah wisatawan
dengan mempertaruhkan citra destinasi dalam
percaturan bisnis antardestinasi. Kok bisa?
JBK merupakan paket tour di Bali yang dijual
sangat murah (under cost prize) oleh BPW
kepada mitranya di Thaiwan. Untuk menutup
kekurangan biaya operasional plus keuntungan
BPW, dibebankan kepada guide yang berbahasa
Mandarin. Karena guide mengeluarkan biaya
lebih dulu maka saat meng-handle turis sang
guide ‘bekerja keras’ untuk
mengembalikan modal dan plus mendapat keuntungan
secara instan-pragmatis dengan mengabaikan
citra (image) baik dan pencitraan (image
projection) terhadap keberlangsungan destinasi.
Ketua DPD HPI Bali Made Sukadana membenarkan
praktek JBK masih terus merajalela hingga
detik ini. “JBK (maaf) ibarat kentut
baunya tercium tapi orangnya tak kelihatan,”
kata Sukadana kepada Image-Bali Travel News
sehari sebelum memimpin delegasi HPI Bali
mengikuti rakernas HPI di Menado-Sulawesi
Utara. Praktek ini, menurutnya, sangat merugikan
Bali sebagai destinasi pariwisata budaya.
“Wisatawan selalu menjadi korban karena
dalam benak sang guide hanya berpikir how
to get money back,” tandas Sukadana
2005-2010 memilih satuan bahasa ’keharmonisan
dalam keseimbang-an secara berkelanjutan’
— kata terakhir memaknakan pembangun-an
berkelanjutan (stainable development) yang
amat populer di tataran global, yang berarti
pula seirama dengan aliran politik dunia.
Penyusun Visi 2005-2010, memang, memiliki
kepekaan dan intuisi tinggi terhadap hal-hal
positif yang berkembang di dunia. Tentu,
akan lebih asosiatif jika psikologi dan
unsur emotif warga (Bali) tidak diabaikan
hanya karena ingin membaratkan rasa dan
gaya (sense of westernize style). Sebab,
gramatika (tata bahasa) sulit dipisahkan
dari psikologi dan emosi warga setempat,
serta erat kaitannya dengan unsur edukasi,
komunikasi, dan sosialisasi gagasan dalam
visi. Tetapi berdebat tentang visi dan gramatika
adakalanya absurd kalau wujud pembangunan
di lapangan lebih sempurna dan berpihak
ke publik. Dalam hubungan itulah warga kota
dan Bali — karena Denpasar ibukota
propinsi — tetap halal jika mengapresiasi
visi berwawasan budaya itu dengan gembira,
bersemangat, dan ikhlas. Tetapi tidak haram
juga kalau menanggapinya dengan rasa pesimistik
dan sangsi terhadap kemampuan, kesetiaan,
dan konsistensi pihak penguasa mengaplikasikan
visi itu dalam kota yang terlanjur over-load
(beban melampaui kekuatan), semrawut, dan
amburadul.
Tanggapan dan apresiasi, apa pun bentuk
dan cara pengungkapannya, mesti dianggap
wajar. Sebab, masih berada dalam koridor
wacana dan ruang lingkup kultural. Dalam
tradisi berpikir positif dan dugaan baik
(positive thinking behavioral & well
hunch), tiap pendapat yang terungkap dalam
wacana selalu sarat dengan kearifan dan
kebenaran.
Visi 2005-2010 tak perlu disangsikan karena
penjabarannya ke misi tak melupakan kultur
Bali, dan tetap mencerminkan kesantunan
warga kota beserta pemimpinnya. Dengan demikian,
praktis mencitrakan sosiologi dan batin
atau roh Bali. Dalam kaitan ini, penguasa
Denpasar wajib menempatkan kepribadian manusia
Bali (Hindu) untuk menghidupkan humanitas
warga kota yang cenderung terus meredup
ditiup arus individualistik, konsumerisme,
dan hedonis. Karena itu, filosofi hidup
Tri Hita Karana (THK) harus selamanya jadi
input (masukan) untuk memecahkan persoalan
kota di hulu dan hilir guna menciptakan
keharmonisan/keseimbangan sebagai output
(luaran) dan stainable (outcome/hasil akhir)-nya.
Perihal citra (image) dan pencitraan (image
projection), bisa baik, bisa juga buruk,
menyenangkan/menjengkelkan, membahagiakan/menyengsarakan.
Jika implemen-tasi visi mampu mensejahterakan
rakyat, menumbuhkan rasa aman dan nyaman
di hati warga kota, citra yang muncul praktis
positif dan pencitraan sukses. Ini memberi
isyarat, visi tadi merupakan beban berat
bagi penguasa dan warga kota untuk tidak
membiarkannya hanya indah dan kaya makna
dalam gramatika dan konsepsi, tetapi nihil
dalam aplikasi, absurd dalam evaluasi, ngawur
di dalam mengkritisinya.
Itu bisa terjadi kalau (1) penjabaran visi
ke misi tak lugas; (2) misi ke program tak
sejalan dengan tuntutan objektif publik;
(3) program tak tercermin dalam APBD; (4)
APBD tak riil diarahkan untuk mewujudkan
harapan ideal; (5) pengawasan dan pengendalian-nya
lemah. Visi, misi, dan program bisa juga
jadi ’macan kertas’ jika (1)
sebatas komoditi politik yang seringkali
jauh dari aturan dan kesantunan publik;
(2) legal base (regulasi)-nya lembek; (3)
political commitment pimpinan puncaknya
hambar dan kosong; (4) instrumen dan indikator
(alat ukur)-nya sengaja tak dibuat atau
dibuat sengaja tak objektif; (5) check list
sebagai alat meminimalkan ketimpangan/distorsi
dalam evaluasi asal-asalan.
Kini saatnya warga kota menyimak, sekaligus
tampil sebagai komparator konsepsi dan implementasinya
di lapangan. Sudahkah implementasinya di
lapangan sejalan dengan visi yang dideklarasikan
hampir delapan tahun yang lalu itu? Tulisan
edisi mendatang bertajuk ’ Kawasan
Khas dan Tata Ruang Kehilangan Roh’.
* Berata Ashrama, Pemimpin Umum/Perusahaan
Bali Travel News dan Ketua Tim Tri Hita
Karana Tourism Awards & Accreditations
|