City Tour di Mata Para Guide dan Pejabat
City tour Denpasar, sebuah paket wisata
dalam kota yang menawarkan produk
wisata andalan 3P (pura, puri, pasar)
terkesan lenyap ditelan zaman. Fenomena
ini, rupanya, tak hanya lenyap dari
sorotan masyarakat umum, tetapi juga
padam dari pandangan guide dan travel
agent. Masyarakat dan organisasi yang
berhubungan langsung terhadap turis
ini ternyata tidak lagi respek terhadap
program wisata itu. Padahal melalui
city tour, Denpasar sebagai ibu kota
Propinsi Bali bisa tampil sebagai
destinasi yang mencerminkan sosok
Bali dan masyarakatnya secara total
sehingga menarik bagi wisatawan asing
dan domestik.
Menjual
sebuah produk wisata, memang, tak
cukup hanya dengan menyebarkan aroma
produk semata dengan menihilkan promosi.
Akan tetapi harus mampu juga menjaga
sekaligus menatanya sehingga tetap
menjadi tujuan wisata kota yang menarik.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan
dari para guide, program city tour
Denpasar belakangan menurun drastis,
bahkan cenderung terhapus dari agenda
kepariwisataan pemerintah kota. Produk
wisata yang ditawarkan tidak sungguh-sungguh
ditata sehingga tak mengherankan jika
kualitasnya melorot.
Pura, puri, pasar yang ditawarkan
sebagai daya tarik utama, belum maksimal
ditata. Fasilitas jalan dan toilet
kurang memadai, parkir penuh-sesak,
dan kemacetan lalu lintas menuju objek
jadi santapan harian. Pura Jagatnatha
di jantung kota, memang, yang sedikit
menggema, namun sayang masih berhadapan
dengan guide liar yang pemahamannya
tentang ritus di tempat suci itu sering
sulit dipertanggungjawabkan.
Sama halnya dengan wisata puri, tampak
sekali belum siap menerima tamu. Fasilitas
pendukung sebuah tujuan wisata belum
memadai — tidak ada penonjolan
karakteristik dan kekhasan sehingga
tak ada bedanya dengan rumah biasa.
Informasi atau brosur yang mengulas
histori puri pun amat langka sehingga
para guide sulit menjelaskannya secara
tuntas. Dan, yang paling sentral di
antara semuanya adalah kurangnya promosi,
baik kepada masyarakat luar maupun
masyarakat pariwisata di Bali.
Ngurah, seorang guide tua mengatakan,
sejak lama dirinya sudah biasa mengajak
tamu jalan-jalan ke objek wisata di
Kota Denpasar melalui program city
tour-nya. Namun belakangan itu sangat
jarang dilakukan, bahkan hampir tidak
pernah, kecuali atas permintaan dari
tamu itu sendiri. “Program itu
sesungguhnya sangat bagus, namun tidak
dibarengi dengan usaha menjaga dan
merawatnya sehingga belakangan ini
banyak objek berubah ke arah penurunan
kualitas,” tuturnya kepada Image-Bali
Travel News.
Ia kemudian mencontohkan, pasar tradisional
Badung, Kumbasari, Kreneng, dan Satria,
yang diandalkan dapat menarik kunjungan
wisatawan kini penuh sesak, kumuh
dan berbau. Keadaannya semakin semrawut,
para pedagang meluap sampai ke jalan
hingga tidak memberikan ruang bagi
para pengunjung. Warga pasar juga
berlomba-lomba menjajakan barang dagangannya
sehingga tak sempat mengurus sampah
secara serius. Areal pun menjadi kotor.
“Sikap tak terpuji itu cenderung
membuat potensi pasar menjadi rendah
dan kualitasnya menurun,” katanya.
Hal itu juga dibenarkan oleh Mudita,
seorang guide freelance asal Denpasar.
Menurut dia, berwisata di Denpasar,
selain tak memjamin kenyamanan wisatawan,
keamanan turis pun masih jauh dari
harapan. Ia kemudian mencontohkan,
adanya cery-cery (pengantar tamu belanja)
yang terlalu berulah sehingga membuat
wisatawan menjadi kapok. Melalui berbagai
cara, mereka membuat alasan agar guide
tidak mengantar tamunya berbelanja.
Dengan demikian, cery-cery itu dengan
bebas bisa berbuat. Mereka tidak ubahnya
seperti guide liar yang hanya mengejar
keuntungan. “Barang yang harganya
Rp 10 ribu bisa dijual sepuluh kali
lipat. Tidak hanya itu, mereka juga
sering memaksa turis berbelanja hanya
semata-mata untuk mendapatkan komisi,”
katanya kesal seraya mengatakan, dirinya
pernah bertengkar dengan cery saking
malu terhadap tamunya.
Putu Budiasa, Kepala Dinas Pariwisata
Kota Denpasar mengatakan, paket city
tour memang sedikit mengendor. Tetapi
program ini masih jalan. Malah, menurut
Budiasa, belakangan city tour berkembang
ke Taman Perjuangan Rakyat Bali yang
selalu mendapat kunjungan yang lebih
bagus. Untuk menyambut Indonesia Visit
Year 2008, sambungnya, rangkaian kegiatan
berhubungan dengan seni dan budaya
terus digelar. “Itu untuk membangkitkan
kembali city tour Denpasar,”
tegasnya. (BTN/015)
|