HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

City Tour di Mata Para Guide dan Pejabat

City tour Denpasar, sebuah paket wisata dalam kota yang menawarkan produk wisata andalan 3P (pura, puri, pasar) terkesan lenyap ditelan zaman. Fenomena ini, rupanya, tak hanya lenyap dari sorotan masyarakat umum, tetapi juga padam dari pandangan guide dan travel agent. Masyarakat dan organisasi yang berhubungan langsung terhadap turis ini ternyata tidak lagi respek terhadap program wisata itu. Padahal melalui city tour, Denpasar sebagai ibu kota Propinsi Bali bisa tampil sebagai destinasi yang mencerminkan sosok Bali dan masyarakatnya secara total sehingga menarik bagi wisatawan asing dan domestik.

Menjual sebuah produk wisata, memang, tak cukup hanya dengan menyebarkan aroma produk semata dengan menihilkan promosi. Akan tetapi harus mampu juga menjaga sekaligus menatanya sehingga tetap menjadi tujuan wisata kota yang menarik.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari para guide, program city tour Denpasar belakangan menurun drastis, bahkan cenderung terhapus dari agenda kepariwisataan pemerintah kota. Produk wisata yang ditawarkan tidak sungguh-sungguh ditata sehingga tak mengherankan jika kualitasnya melorot.
Pura, puri, pasar yang ditawarkan sebagai daya tarik utama, belum maksimal ditata. Fasilitas jalan dan toilet kurang memadai, parkir penuh-sesak, dan kemacetan lalu lintas menuju objek jadi santapan harian. Pura Jagatnatha di jantung kota, memang, yang sedikit menggema, namun sayang masih berhadapan dengan guide liar yang pemahamannya tentang ritus di tempat suci itu sering sulit dipertanggungjawabkan.
Sama halnya dengan wisata puri, tampak sekali belum siap menerima tamu. Fasilitas pendukung sebuah tujuan wisata belum memadai — tidak ada penonjolan karakteristik dan kekhasan sehingga tak ada bedanya dengan rumah biasa. Informasi atau brosur yang mengulas histori puri pun amat langka sehingga para guide sulit menjelaskannya secara tuntas. Dan, yang paling sentral di antara semuanya adalah kurangnya promosi, baik kepada masyarakat luar maupun masyarakat pariwisata di Bali.
Ngurah, seorang guide tua mengatakan, sejak lama dirinya sudah biasa mengajak tamu jalan-jalan ke objek wisata di Kota Denpasar melalui program city tour-nya. Namun belakangan itu sangat jarang dilakukan, bahkan hampir tidak pernah, kecuali atas permintaan dari tamu itu sendiri. “Program itu sesungguhnya sangat bagus, namun tidak dibarengi dengan usaha menjaga dan merawatnya sehingga belakangan ini banyak objek berubah ke arah penurunan kualitas,” tuturnya kepada Image-Bali Travel News.
Ia kemudian mencontohkan, pasar tradisional Badung, Kumbasari, Kreneng, dan Satria, yang diandalkan dapat menarik kunjungan wisatawan kini penuh sesak, kumuh dan berbau. Keadaannya semakin semrawut, para pedagang meluap sampai ke jalan hingga tidak memberikan ruang bagi para pengunjung. Warga pasar juga berlomba-lomba menjajakan barang dagangannya sehingga tak sempat mengurus sampah secara serius. Areal pun menjadi kotor. “Sikap tak terpuji itu cenderung membuat potensi pasar menjadi rendah dan kualitasnya menurun,” katanya.
Hal itu juga dibenarkan oleh Mudita, seorang guide freelance asal Denpasar. Menurut dia, berwisata di Denpasar, selain tak memjamin kenyamanan wisatawan, keamanan turis pun masih jauh dari harapan. Ia kemudian mencontohkan, adanya cery-cery (pengantar tamu belanja) yang terlalu berulah sehingga membuat wisatawan menjadi kapok. Melalui berbagai cara, mereka membuat alasan agar guide tidak mengantar tamunya berbelanja. Dengan demikian, cery-cery itu dengan bebas bisa berbuat. Mereka tidak ubahnya seperti guide liar yang hanya mengejar keuntungan. “Barang yang harganya Rp 10 ribu bisa dijual sepuluh kali lipat. Tidak hanya itu, mereka juga sering memaksa turis berbelanja hanya semata-mata untuk mendapatkan komisi,” katanya kesal seraya mengatakan, dirinya pernah bertengkar dengan cery saking malu terhadap tamunya.
Putu Budiasa, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar mengatakan, paket city tour memang sedikit mengendor. Tetapi program ini masih jalan. Malah, menurut Budiasa, belakangan city tour berkembang ke Taman Perjuangan Rakyat Bali yang selalu mendapat kunjungan yang lebih bagus. Untuk menyambut Indonesia Visit Year 2008, sambungnya, rangkaian kegiatan berhubungan dengan seni dan budaya terus digelar. “Itu untuk membangkitkan kembali city tour Denpasar,” tegasnya. (BTN/015)

 

 

 



See :

 

 


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001