|
Wisata
Air Berkembang dengan Melupakan "Carrying
Capacity"
Kegiatan wisata air kini makin unjuk gigi
di Bali. Selain karena bisa tampil sebagai
salah satu atraksi favorit di mata wisatawan,
terbukti juga kian banyaknya akomodasi kepariwisataan
yang mencari daerah pesisir sebagai background-nya.
“Fenomena ini tentu dapat menjadi
contoh kecil bahwa perairan di Bali menjadi
sebuah aset yang sangat berharga dan menarik
bagi wisatawan,” kata Yos Amerta,
Ketua Gahawisri Bali.
Menurutnya,
kegiatan wisata air di Bali sudah mengalami
perkembangan sejak tahun 70-an melalui kegiatan
diving. Seiring dengan perkembangan itu,
atraksinya pun kian beragam dalam bentuk
pelayaran, dan terus berkembang lagi menjadi
berbagai atraksi di air (water sport).
Sanur, Tanjung Benoa, Nusa Penida, Nusa
Lembongan, Padang Bay, Candidasa, Amed,
Tulamben, Lovina, Pamuteran, Menjangan dan
Secret Bay – masih ada beberapa lokasi
lainnya — merupakan daerah yang potensial
untuk kegiatan wisata ini. Atraksi yang
dikembangkan pun kian beragam. Tidak hanya
berenang, tetapi juga menelusuri potensi
bawah air melalui diving, snorkling dan
sea walker. Bahkan bagi mereka yang yang
mencinta tantangan, dapat menjajal ketangguhan
ombak melalui kegiatan surfing, jetsky,
banana boat , wind surfing dan parasailing.
Data yang didiperoleh di Gahawisri menunjukkan,
di Bali kini tercatat sekitar 136 perusahaan
yang bergerak di bidang atraksi air dengan
lokasi terbanyak di Badung (Tanjung Benoa
& Kuta). Persoalannya, hingga kini belum
ada peraturan daerah yang mengatur mengenai
wisata tirta, terutama dalam hal carrying
capacity (daya dukung) sehingga terkesan
tak ada perhatian dari pemerintah.
Jika hal ini terus berlanjut, kata Yos,
ditakutkan nanti terjadi over load di sebuah
kawasan, di samping timbulnya kesemrawutan
tata ruang dan persaingan tidak sehat. “Yang
disebut terakhir – persaingan tak
sehat – sudah terjadi di Bali kini,”
Yos menambahkan.
Wisata tirta, menurut pandangan Yos, sebenarnya
padat modal, baik dilihat dari segi operasional
maupun perawatan fasilitasnya. Bahkan tak
jarang banyak pengusaha yang membanting
harga untuk memperebutkan pasar, meski biaya
operasional kian lama kian meningkat. Yang
menghawatirkan, dengan turunnya harga praktis
mempertaruhkan kualitas dan keselamatan
konsumen.
Kawasan Tanjung Benoa, misalnya, yang paling
banyak diminati wisatawan lokal dan asing,
penataannya belum maksimal. Rambu-rambu
sebagai penuntun wisatawan pun amat terbatas.
Ini bisa fatal bagi keselamatan konsumen.
Karenanya, perhatian pemerintah sangat diharapkan,
minimal untuk mencegah konflik antara pengelola
wisata tirta dan hotel akibat terjadinya
kebisingan. “Untuk itu, Bali ke depan
perlu mengembangkan jenis wisata air yang
ramah lingkungan tanpa menggunakan mesin,”
kata pemilik Yos Marine Adventure itu berharap.
(BTN/008)
|