|
Wayang,
Cermin Kehidupan
Wayang
sebagai pertunjukan seni teater komplek
yang memadukan keselarasan gerak tari, musik,
vokal, lukis, dan sastra secara filosofi
merupakan cermin prilaku kehidupan. Semua
karakter kehidupan — manusia, hewan,
dan tumbuh-tumbuhan – ada di sana.
Menurut Dewa Wicaksana, Ketua Jurusan Pedalangan
ISI Denpasar, sampai saat ini belum ada
yang mengetahui kapan wayang itu lahir.
Ada yang mengatakan, wayang berasal dari
India karena dikuatkan dengan cerita yang
diambil dari Epos Ramayana dan Mahaberata.
Namun, secara etimologi kata wa-yang serta
aparatus lainnya seperti damar wayang, kelir,
cepala, keropak, blencong, gedebong terdapat
di dalam bahasa Jawa Kuno.
Wayang diperkirakan sudah ada sebelum masehi,
jauh sebelum masuknya berbagai pengaruh
kebudayaan luar. Dulu, wayang bentuknya
sederhana yang dipertunjukkan pada malam
hari sebagai sebuah persembahan kepada leluhur.
Bahkan kesenian wayang ini dulu hanya dimainkan
oleh Saman (seorang ahli yang mampu berkomunikasi
dengan leluhur).
Setelah masuknya budaya Hindu yang kebetulan
memiliki persamaan budaya, wayang mulai
me-ngarah kepada seni pertunjukan dengan
menggandeng berbagai jenis cerita. “Di
Indonesia, wayang Bali diperkirakan tertua.
Hal itu dibuktikan dengan adanya relief
berwujud wayang yang bentuknya persis wayang
Bali di Candi Penataran, Jawa Timur,”
katanya.
Meski sebagai seni pertunjukan yang populer
di mata masyarakat, tidak gampang menjadi
seorang dalang. Di samping memerlukan konsentrasi
tinggi dan stamina yang fit, seseorang dalang
dituntut juga menguasai bahasa kawi, mecepala,
memainkan dan menyuarakan masing-masing
ka-rakter dari pada tokoh wayang. “Paling
tidak, dalang harus mengetahui rasa seni
musik, tari dan mengetahui sastra,”
lanjutnya.
Kesenian wayang dalam perjalanannya hingga
kini, selain sebagai pertunjukan seni wali
(pelengkap upacara), juga sebagai bebali
(penunjang upacara), dan balih-balihan (hiburan).
Menjadi seorang dalang dalam tradisi masyarakat
Bali tidak gampang. Pertama-tama harus melakukan
penyucian diri lewat pewintenan dan mesakapan
(kawin) dengan wayang dengan tujuan menyatukan
wayang dan dalang sehingga dalam setiap
pertunjukannya muncul taksu (inner power)
wayang sesungguhnya. Proses ritual itu juga
sebagai tanda bahwa dalang berfungsi sebagai
pandita bergelar Jero Dalang yang bertugas
untuk membuat tirta (air suci).
Sebagai Wali, kesenian ini dapat dikategorikan
menjadi tiga: wayang lemah, Wayang Sapu
Leger dan Wayang Sudamala. Wayang lemah
dipentaskan sebagai pelengkap upacara (Dewa
Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra
Yadanya, Bhuta Yad-nya) yang lebih menekankan
pada sebuah persembahan. Wayang lemah dipertunjukkan
siang hari dan cerita yang diangkat disesuaikan
dengan jenis upacara yang digelar. Wayang
Sapu Leger dan Wayang Sudamala merupakan
pertunjukan wayang kulit biasa yang digelar
malam hari. Namun, dalam pentasnya khusus
untuk meruwat anak yang lahir pada tumpek
wayang sehingga mengangkat cerita dan memakai
banten yang khusus pula. Pertunjukan Wayang
Sapu Leger biasanya mengambil kisah Dewa
Kala atau Siwa Rare Kumara. Sedang Wayang
Sudamala, memakai cerita Durga yang diruwat
oleh Sahadewa.
Menurut I Nyoman Sumandhi, sebelum tahun
60-an pertunjukan wayang sudah banyak mengarah
pada dunia hiburan. Misalnya, kehadiran
Wayang Buduk dengan dalang IB Ngurah. Di
samping sarat dengan filsafat, dipadukan
de-ngan unsur-unsur modern yang bersifat
kekinian. Di sisi lain pertunjukan wayang
ini juga menampilkan banyolan sehingga sibuk
meladeni penanggap. Demikian pula Dalang
Jagra dari Bongkasa yang khas dengan Wa-yang
Ramayana dan Wayang Bangli khas dengan lelucun
dan tafsiran nomer lotre (buntut). Perkembangan
kemudian, muncul Wayang Arja dan Wayang
Tantri dengan binatang sebagai tokoh sentral,
serta Wayang Wakul yang memasukkan unsur
modern se-perti ada kapal udara dan robot
ke dalam tokoh-tokohnya,.
Di tahun 90-an dikejutkan dengan munculnya
wayang Cenk Blonk yang sangat inovatif.
Dalam pentasnya, diiringi oleh puluhan pendukung
serta berbagai elemen gamelan Bali. Menjadi
khas adalah dua tokoh punakawan Cenk dan
Blonk yang secara kocak melontarkan keadaan
masa kini. Estetika betul-betul menjadi
kebutuhan utama sehingga lampu, soundsystem,
dan efek suara alam betul-betul ditata.
Wajarlah dalam belasan tahun terakhir ini,
Cenk Blonk menjadi pertunjukan wayang terlaris
di Bali. Sebab, untuk bisa menanggap harus
memesan 5 – 9 bulan sebelumnya dan
upahnya berkisar antara Rp 8 hingga Rp 9
juta.(BTN/015)
|