HomeCalendar EventsAdvertiseClassifiedsE-CardNewsletter Japan Edition
General information | Previous edition |
News
Cover Story
Beyond Bali
Volklore
Guide Board
Art & Crafts
Peaple / Live
Nature's Window
Sport & Leisure
FoodHoroscope

 

 

 

Comment to : batrav@indo.net.id
 

Wayang, Cermin Kehidupan

Wayang sebagai pertunjukan seni teater komplek yang memadukan keselarasan gerak tari, musik, vokal, lukis, dan sastra secara filosofi merupakan cermin prilaku kehidupan. Semua karakter kehidupan — manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan – ada di sana. Menurut Dewa Wicaksana, Ketua Jurusan Pedalangan ISI Denpasar, sampai saat ini belum ada yang mengetahui kapan wayang itu lahir.
Ada yang mengatakan, wayang berasal dari India karena dikuatkan dengan cerita yang diambil dari Epos Ramayana dan Mahaberata. Namun, secara etimologi kata wa-yang serta aparatus lainnya seperti damar wayang, kelir, cepala, keropak, blencong, gedebong terdapat di dalam bahasa Jawa Kuno.
Wayang diperkirakan sudah ada sebelum masehi, jauh sebelum masuknya berbagai pengaruh kebudayaan luar. Dulu, wayang bentuknya sederhana yang dipertunjukkan pada malam hari sebagai sebuah persembahan kepada leluhur. Bahkan kesenian wayang ini dulu hanya dimainkan oleh Saman (seorang ahli yang mampu berkomunikasi dengan leluhur).
Setelah masuknya budaya Hindu yang kebetulan memiliki persamaan budaya, wayang mulai me-ngarah kepada seni pertunjukan dengan menggandeng berbagai jenis cerita. “Di Indonesia, wayang Bali diperkirakan tertua. Hal itu dibuktikan dengan adanya relief berwujud wayang yang bentuknya persis wayang Bali di Candi Penataran, Jawa Timur,” katanya.
Meski sebagai seni pertunjukan yang populer di mata masyarakat, tidak gampang menjadi seorang dalang. Di samping memerlukan konsentrasi tinggi dan stamina yang fit, seseorang dalang dituntut juga menguasai bahasa kawi, mecepala, memainkan dan menyuarakan masing-masing ka-rakter dari pada tokoh wayang. “Paling tidak, dalang harus mengetahui rasa seni musik, tari dan mengetahui sastra,” lanjutnya.
Kesenian wayang dalam perjalanannya hingga kini, selain sebagai pertunjukan seni wali (pelengkap upacara), juga sebagai bebali (penunjang upacara), dan balih-balihan (hiburan). Menjadi seorang dalang dalam tradisi masyarakat Bali tidak gampang. Pertama-tama harus melakukan penyucian diri lewat pewintenan dan mesakapan (kawin) dengan wayang dengan tujuan menyatukan wayang dan dalang sehingga dalam setiap pertunjukannya muncul taksu (inner power) wayang sesungguhnya. Proses ritual itu juga sebagai tanda bahwa dalang berfungsi sebagai pandita bergelar Jero Dalang yang bertugas untuk membuat tirta (air suci).
Sebagai Wali, kesenian ini dapat dikategorikan menjadi tiga: wayang lemah, Wayang Sapu Leger dan Wayang Sudamala. Wayang lemah dipentaskan sebagai pelengkap upacara (Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadanya, Bhuta Yad-nya) yang lebih menekankan pada sebuah persembahan. Wayang lemah dipertunjukkan siang hari dan cerita yang diangkat disesuaikan dengan jenis upacara yang digelar. Wayang Sapu Leger dan Wayang Sudamala merupakan pertunjukan wayang kulit biasa yang digelar malam hari. Namun, dalam pentasnya khusus untuk meruwat anak yang lahir pada tumpek wayang sehingga mengangkat cerita dan memakai banten yang khusus pula. Pertunjukan Wayang Sapu Leger biasanya mengambil kisah Dewa Kala atau Siwa Rare Kumara. Sedang Wayang Sudamala, memakai cerita Durga yang diruwat oleh Sahadewa.
Menurut I Nyoman Sumandhi, sebelum tahun 60-an pertunjukan wayang sudah banyak mengarah pada dunia hiburan. Misalnya, kehadiran Wayang Buduk dengan dalang IB Ngurah. Di samping sarat dengan filsafat, dipadukan de-ngan unsur-unsur modern yang bersifat kekinian. Di sisi lain pertunjukan wayang ini juga menampilkan banyolan sehingga sibuk meladeni penanggap. Demikian pula Dalang Jagra dari Bongkasa yang khas dengan Wa-yang Ramayana dan Wayang Bangli khas dengan lelucun dan tafsiran nomer lotre (buntut). Perkembangan kemudian, muncul Wayang Arja dan Wayang Tantri dengan binatang sebagai tokoh sentral, serta Wayang Wakul yang memasukkan unsur modern se-perti ada kapal udara dan robot ke dalam tokoh-tokohnya,.
Di tahun 90-an dikejutkan dengan munculnya wayang Cenk Blonk yang sangat inovatif. Dalam pentasnya, diiringi oleh puluhan pendukung serta berbagai elemen gamelan Bali. Menjadi khas adalah dua tokoh punakawan Cenk dan Blonk yang secara kocak melontarkan keadaan masa kini. Estetika betul-betul menjadi kebutuhan utama sehingga lampu, soundsystem, dan efek suara alam betul-betul ditata. Wajarlah dalam belasan tahun terakhir ini, Cenk Blonk menjadi pertunjukan wayang terlaris di Bali. Sebab, untuk bisa menanggap harus memesan 5 – 9 bulan sebelumnya dan upahnya berkisar antara Rp 8 hingga Rp 9 juta.
(BTN/015)

See :


   

DIRECTORY  
Hotel & Resort
Land & Property
Furniture
Silver
Cargo
M.I.C.E
Organizer
Restaurants
Travel Agent
Money Changers
REGENCY  
Badung
Gianyar
Bangli
Klungkung
Karangasem
Buleleng
Jembrana
Tabanan
Denpasar

CURRENCY  
 
WEATHER  
 
Bali Travel News is published by the oldest Newspaper in Bali
© Copyright Bali Travel News 2001