Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • HOT NEWS
Tourist Object: Something Unique in Desa and Puseh Temple of Batuan (Friday, 21 November 2014 00:00)
Tourist Object: Guest Visiting Hours to Tanah Lot Extended (Friday, 21 November 2014 00:00)
Sport and Recreation: Fun Swimming in Tirta Arum Pool (Friday, 21 November 2014 00:00)
People: Adi Soenarno (Friday, 21 November 2014 00:00)
Headline News: Puri Sebatu Resort (Friday, 21 November 2014 00:00)
Headline News: Invoking Medicine of Skin Diseases at Spring of Taman Sari Sangeh Temple (Friday, 21 November 2014 00:00)
Food and Beverage: Let's Enjoy "Coffee Terrace" at Berrybiz (Friday, 21 November 2014 00:00)
Food and Beverage: Lawar Don Belimbing, Bitter but Delicious (Friday, 21 November 2014 00:00)
Art & Cultural: Ubud Cultural Arts Festival (Friday, 21 November 2014 00:00)
Art & Cultural: Cultural Wonders of the Royal Pejeng Performance (Friday, 21 November 2014 00:00)
Banner
You are here: Home

Pura Agung Kentel Gumi Puseh Jagat Bali sebagai Penyegjeg Jagat

Pada tahun 980 (abad X), Mpu Kuturan mendirikan sebuah pura, pura Agung Kentel Gumi. Awalnya sangat sederhana. Kemudian diperluas kembali tahun1350 oleh Sri Kresna Kepakisan, Dalem I Bali di era Majapahit yang berkedudukan di Samplangan. Perluasan itu dibantu Arya Kenceng sebagai arsiteknya. Pembangunan pura diteruskan Dalem Watu Renggong (cucu Sri Kresna Kepakisan) yang berkedudukan di Gelgel) dan tercatat sebagai Raja Bali I sekaligus yang menyelenggarakan karya panyegjeg jagat (tahun 1480-1550). Selanjutnya Pemkab Klungkung dikoordinir Pemprov. Bali dibantu pemkab dan kota se-Bali mengadakan rehabilitasi total yang dilanjutkan dengan upacara panyegjeg jagat kedua tahun 2008.



Pura Agung Kentel Gumi berada di Desa Tusan, Banjarangkan, Klungkung. Merupakan salah satu pura khayangan Jagat Bali, sungsungan umat Hindu sebagai stana Ida Sang Hyang Reka Bhuwana. Pura ini berfungsi sebagai tempat memohon kedegdegan jagat. Sebagaimana dipaparkan dalam lontar Raja Purana Batur yang dikeluarkan Dalem Waturenggong sebagai raja diraja Bali tahun 1480-1550 masehi, intinya menyatakan Pura Agung Kentel Gumi merupakan Tri Gunaning Pura (Khayangan Tiga-nya Jagat Bali). Pura Batur/Tampurhyang sebagai Pura Desa-nya (mohon kesuburan), Pura Kentel Gumi sebagai Puseh (Kedegdegan jagat) dan Pura Agung Besakih/Tohlangkir sebagai Dalem (kesucian sekala niskala).

Dalam purana itu juga disebutkan, jika penguasa kurang melaksanakan persembahan di Pura Besakih, Batur dan Kentel Gumi, akan kacaulah jagat Bali. Terungkapnya fungsi Tri Guna Pura itulah yang menjadi salah satu dorongan melakukan pemugaran Pura Kentel Gumi (tahun 2008). Selain karena kondisi fisik bangunan, memang banyak yang sudah keropos. Pemugaran dilakukan dengan mempertahankan keaslian pura-detail palinggih, tembok, serta corak dan ragam hias ukiran semirip mungkin dengan asli. Kalaupun ada tiruan, bahan dan garapan harus ditiru dari dokumentasi berupa foto-foto Pura Kentel Gumi yang masih tersimpan.

Pura Agung Kentel Gumi terdiri empat halaman utama. Utamaning Utama Mandala dengan 23 pelinggih seperti Lingga Reka Bhuwana/Pancer Jagat, Meru Tumpang Solas (palinggih Ida Sanghyang Reka Bhuwana). Di sisi utara (kompleks palinggih Bathara Maspahit), terdiri atas enam palinggih. Palinggih utama Gedong stana Bathara Maspahit. Di sisi selatan, kompleks palinggih Batara Masceti, terdapat 9 palinggih, Gedong merupakan stana Batara Masceti. Lumbung Agung/tempat penetegan.

Sedangkan di Madya Mandala (tengah). Terdapat empat palinggih, salah satunya palingguh Bale Agung, Gedong Sari stana Batari Saraswati. Nista Mandala (jaba sisi/luar), ada dua Padmasari. Palinggih-palinggih itu bagian dan perluasan Pura Agung Kentel Gumi, yang diawali Mpu Kuturan masa pemerintahan Raja Bali Kuna dan dinasti Warmadewa yakni Raja Udayana Warmadewa dengan permaisuri Putri Mahendradatta. Purana mencatat, setelah Mpu Kuturan, Pura Kentel Gumi diperluas dengan pembangunan palinggih, menyusul berkuasanya Sri Haji Cili Kresna Kepakisan (bungsu Danghyang Soma Kepakisan) yang diminta Mahapatih Gajah Mada/Majapahit menjadi adipati Bali pasca kalahnya Raja Sri Tapolung di Bedahulu.

Pura Agung Kentel Gumi diempon enam desa pakraman sebagai pamucuk dan 24 desa pakraman se-Kecamatan Banjarangkan sebagai pangerombo. Di pura itu dilaksanakan dua yadnya yakni rainan nyabran dan di luar nyabran (berskala besar) seperti pujawali (setiap Umanis Galungan, dua kali setahun), ngusaba Jagat (setiap purnama kelima, sekali setahun) dan panyegjeg jagat setiap purnama kelima (sekali dalam sepuluh tahun).

Selain upacara Ngusaba Jagat setiap Purnama Kalima, ada sejumlah aci lain dilaksanakan di Pura Agung Kentel Gumi. Upacara tersebut yakni upacara pujawaii yang berlangsung setiap Umanis Galungan. Upacara Panyegjeg Jagat  setiap 10 tahun sekali. Sedangkan Karya Ngusaba Jagat baru dua kali dilaksanakan dalam  rentang waktu 500 tahun. Pertama pada zaman Dalem Watu Renggong (1480 – 1550) dan tahun 2008 lalu.(BTN/kmb)

 

Leave your comments

Guest
Thursday, November 27, 2014
0 characters
terms and condition.
  • No comments found